Logika, Cinta, Perasaan


(source : google)


Diskusi panjang tentang cinta tentu tidak akan pernah berakhir dan selalu menjadi topik yang menyenangkan untuk diobrolkan bersama teman tak peduli berapapun usia kita.

C.I.N.T.A
Satu kata ini dapat diartikan sebagai sebuah rasa kasih sayang atau dimaknai sebagai rasa ketertarikan kepada pria/wanita atau ada yang punya pengertian lain? Apapun itu, saya rasa cinta pasti selalu bermakna positif.

Kali ini saya ingin menuliskan pemikirian saya dalam bentuk tulisan yang mana juga menjadi keresahan saya untuk beberapa tahun kebelakang saat mendengar cerita teman-teman saya ataupun saat membaca kisah di media sosial tentang kisah manis percintaan yang berujung tragis bahkan mengenaskan, okay ini terdengar berlebihan.

Bermula dari pernyataan ini, "cinta itu rasa, bukan logika" atau "cinta tak butuh logika", dengar pernyataan ini aku rasanya ingin langsung muntah, ingin rasanya memarahi orang-orang yang sungguh memaknainya seperti itu, apalagi jika dilakukan seorang wanita. Di tulisan ini aku ingin bilang kalau cinta dan logika seharusnya berjalan beriringan dan bukan sebuah hal yang terpisah dan berdiri sendiri. Setelah ini mungkin ada yang bertanya, "jadi kamu ahli cinta?" atau "jadi kamu dokter cinta?" atau "gak usah mengurusi urusan orang lain".

Well, dari zaman sebelum negara api menyerang, banyak teman yang suka curhat tentang permasalahan hubungan meraka dengan pasangannya kepadaku, ada yang bercerita bahwa pacarnya suka berbohong tapi dia sangat mencintainya, ada yang pacarnya suka melakukan kekerasan tapi diapun sangat mencintainya, ada yang uangnya diporoti tapi yakin bahwa pacarnya mencintainya, ada yang sudah diselingkuhi beberapa kali tapi tak bisa memutuskan hubungan bahkan ada yang kehilangan keperawanan atas dasar cinta.
Kisah lainnya yang membuat geli tapi lucu adalah saat pasangannya melarang untuk berteman dengan lawan jenis, password media sosial miliknya harus diketahui oleh sang kekasih atau setiap ketemu hpnya akan dicek oleh sang kekasih bahkan ada yang harus melapor kepada sang kekasih kemana dan sama siapa dia akan pergi.
Kisah seperti ini bukan hanya cerita dari temanku, diluar sana pun banyak yang mengalami kisah serupa, bentuk-bentuk lain dari cerita seperti ini pun pasti sangat banyak dan saking banyaknya gak bisa dituliskan semua.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah "apakah masih menganggap bahwa cinta dan logika adalah hal berbeda dan sebaiknya memahami bahwa cinta hanya sekedar rasa?"

Kisah-kisah yang aku sebutkan diatas sebenarnya tidak akan terjadi kalau saja seorang individu tidak terlalu tenggelam dalam sebuah buaian yang namanya cinta, kisah yang ku sebutkan harusnya tidak terjadi andai saja seorang individu menganggap dirinya berharga dan orang lain tidak seharusnya menyakitinya dan kisah yang sudah ku sebutkan seharusnya tidak terjadi jika seorang individu ingin menggunakan sedikit loginya dalam sebuah hubungan percintaan.

Aku punya sebuah contoh, seorang wanita yang baru saja putus dari pacarnya, sudah sekitar 3 minggu tapi masih memaki menggunakan kata-kata kebun binatang, nangis sepanjang hari, memilih untuk tidak makan dan merokok lebih sering. 
Melihat hal seperti itu tentu aku sedih, sedih sekali rasanya, bagaimana mungkin kita memilih merusak diri dan terbawa perasaan untuk waktu yang lama? Aku paling gak suka saat wanita terpuruk seperti itu, kadang suka ngiluh, tapi pada fase seperti ini memang masukan ataupun saran tidak akan didengarkan, mereka hanya butuh dukungan yang membenarkan pilihan mereka. 
Sampai suatu hari seorang teman yang mungkin sudah muak melihat ku akhirnya berkata di depan ku dan di depan banyak orang, "I know, you're a strong and independent woman who doesn't need a man". Hey ayolah, kasar sekali rasanya.

Lalu ada yang bertanya, "oh, jadi semua hal butuh logika?", bagi ku tidak selalu tentang logika, tapi harus menempatkan logika disaat tertentu karena tidak semua hal harus dipikirkan secara logis misalnya keputusan untuk mempercayai Sang Pencipta. Tapi jangan terlalu logis juga, melihat segala sesuatu dari sudut pandang logis atay tidak. Intinya menempatkan segala sesuatu sesuai porsinya, seperti yang aku bilang diawal bahwa cinta, logika dan perasaan harus berjalan beriringan.

Hubungan yang sehat tentu saling mengasihi dan bukan melukai. Memahami satu sama lain dan bukan mengedepankan ego. 

Aku berharap bahwa wanita diluar sana bisa menikmati romansa cinta bersama sang kekasih namun tetap mengingat bahwa dia berharga dan orang lain tidak berhak menyakitinya. Maka, tinggalkan segala sesuatu yang melukai mu dan yang tidak menambah nilai dirimu hei wanita-wanita karena kamu berharga.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah CPNS 2018 (Part 2)

Mind Your Own Business

Nikah Muda. Yeay or Nay?