Nikah Muda. Yeay or Nay?
(source : google)
Well, setelah lama gak nulis di blog akhirnya gue nulis lagi. Kali ini gue bakalan membahas tentang nikah muda dari perspektif gue, bisa setuju dan bisa gak setuju.
Akhir-akhir ini gue melihat fenomen nikah muda makin banyak dan makin sering (ini di lingkungan pertemanan gue loh ya, bisa jadi di lingkungan kalian enggak). Gue sebenarnya gak pernah ada masalah dengan pernikahan, serius. Karena menikah adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh semua umat, bahkan di Kristen hal inipun dituliskan, namanya mandat budaya. Cuman yang menjadi konsen gue adalah teman-teman gue yang memilih untuk menikah muda walaupun emang usianya udah diperbolehkan oleh Undang-Undang untuk menikah.
Bagi gue, nikah bukan hanya hal yang sakral tapi juga hal yang harus dipikir dengan matang dengan rasionalitas dan perhitungan yang matang. Kenapa? Karena membangun rumah tangga enggak semudah mengatakan "yuk pacaran".
Ada beberapa hal yang menjadi konsen gue dalam pernikahan. Sekali lagi ini dari perspektif gue yah.
Pertama, tingkat kematangan emosi. Bagi gue, kita sebagai kaula muda yang darahnya masih naik-turun seringkali belum dapat mengontrol emosi dengan baik. Hal ini tentu berdampak buruk nantinya di dalam perkawinan apalagi jika kita menikah dengan pria/wanita yang seusia. Ya walaupun hal ini sebenarnya gak dapat di generalisir. Awalnya mungkin merasa senang dan bahagia karena udah nikah, tapi tak jarang ada yang belum siap menjadi suami/istri atau bahkan kedepannya jadi ayah/ibu.
Kedua, tingkat kematangan ekonomi. Tolong jangan katain gue matre, ini emang termasuk hal yang penting juga menurut perspektif gue. Kenapa? Seyogiayanya sebelum menikah ada baiknya memiliki aset dulu atau paling enggak memiliki tabungan yang cukup, jangan sampai setelah menikah gak punya uang atau apapun jadi mau gak mau tinggal di rumah orangtua atau mertua dan kehidupan sehari-hari ditanggung oleh orangtua/mertua, ini memalukan sekali, sungguh!
Ketiga, gue bingung nih mau ngatain ini kematangan apa, yang jelas tujuan menikah itu pasti memiliki keturunan, akan ada anak di tengah-tengah keluarga. Bicara tentang keturunan tentu ada sangkut pautnya dengan kematangan emosi dan kematangan ekonomi. Sebagai calon orangtua milenial tentu bukan hal yang mudah membesarkan anak, kita harus memperhatikan dari aspek terkecil, baik itu gizi saat dalam kandungan, gizi saat masa pertumbuhan, sekolah yang baik, lingkungan yang baik, dsb. Sebagai orangtua tentu kita ingin agar anak kita mendapatkan yang terbaik dan menjadi yang terbaik, tapi untuk mencapai hal itu pasti ada yang harus dikorbankan. Pertanyaan yang kemudian muncul apakah sudah siap?
Ketiga aspek diatas tentu harus menjadi bahan pertimbangan bagi setiap orang yang akan menikah, khususnya bagi mereka yang ingin menikah muda. Ini bukan masalah sudah jodoh atau belum. Menikah bukan hanya menjalankan kewajiban agama, tapi juga dapat menjadi pasutri teladan di lingkungan dan menghasilkan anak-anak cerdas sebagai calon penerus bangsa.
Kalau ada yang nanya, "emang ada jaminan kalau nikah tua akan lebih baik?". Yah sebenarnya gak ada jaminan juga, tapi yang menjadi fokus gue adalah agar yang mau menikah muda terlebih dahulu memikirkan segala sesuatunya dengan matang, bukan hanya karena sudah lama pacaran dan saling suka kemudian menikah.
Balik lagi ke pribadi masing-masing apakah mau menikah muda atau menikah tua, tidak ada yang salah dengan pilihan itu.

Komentar
Posting Komentar