Tidak ada Keluarga yang Sempurna

(source : google)

Katakan pada saya siapa yang tidak menginginkan keluarga yang bahagia, keluarga yang harmonis dan keluarga yang dapat dibanggakan kepada semua orang.
Katakan pada saya siapa yang menginginkan ayah dan ibu yang sibuk, kakak yang menyebalkan dan adik yang membosankan.

Tentu dari kedua pilihan diatas kita semua menginginkan pernyataan yang pertama, namun pada kenyataannya kita seringkali mendapati keluarga kita seperti yang ada di pernyataan kedua dan pada akhirnya kita mulai tidak bersyukur dan menganggap bahwa keluarga teman kita sepertinya lebih baik dan lebih asyik daripada keluarga kita. Seperti kata pepatah "rumput tetangga selalu lebih hijau".
Pikiran kita pada akhirnya membentuk bagaimana keluarga yang baik itu dan pada akhirnya kita merasa kecewa dan tidak bersyukur atas keberadaan keluarga kita. Karena keluarga adalah tempat pertama yang akan mengajarkan kita tentang kehidupan ini.

Di paragraf kedua saya menulis "keluarga teman kita 'sepertinya' lebih baik dan lebih asyik daripada keluarga kita". Kenapa kata sepertinya saya beri tanda tebal dan berwarna kuning? Karena saya ingin memberitahu kalian semua bahwa kita tidak pernah tahu masalah keluarga apa yang teman kita miliki, kita tidak pernah tahu kekecewaan ataupun kesusahan apa yang sedang mereka rasakan atau pernah rasakan, kita tidak pernah tahu bagaimana masa lalu keluarga mereka apakah baik atau buruk, kita tidak pernah tahu seberapa besar usaha mereka dan seberapa banyak hal yang di korbankan agar menciptakan keluarga seperti saat ini, sungguh kita tidak pernah tahu. 

Kita harus memahami bahwa setiap keluarga tentu berproses dan terus bertumbuh, sejalan dengan semakin bijaknya setiap anggota keluarga.

Saya dulu sering iri dengan ayah teman-teman saya yang tampaknya keren karena bisa menggunakan android sedangkan ayah saya memilih menggunakan hp nokia dengan alasan malas belajar. Saya iri ketika melihat teman-teman saya memiliki group whats app keluarga dan seringkali bercanda bersama melalui whats app. Namun saya belajar bersyukur, karena ayah saya tidak menggunakan android dan kami tidak memiliki group whats app, jadi kami seringkali bertelepon, ya kami berbicara sekedar menanyakan kabar, pulsa memang habis tapi sukacita mendengar suara ayah saya jauh lebih baik.

Saya dulu sering iri dengan teman-teman saya yang memiliki saudara, sepertinya enak punya teman berbagi suka dan duka, saling pinjam barang, dll. Tapi saya bersyukur memiliki seorang ibu seperti seorang teman, kami benar-benar seperti teman, kami kadang bertengkar tapi kami sering bercanda, saya sering meminjam make up beliau maupun meminjam baju beliau, saya sering disuapi dan dibuatkan jus, menyenangkan bukan?

Seiring bertambahnya usia saya, saya semakin bijak dalam menyikapi arti keluarga. Saya juga belajar bahwa tidak ada keluarga yang sempurna, semuanya tergantung dari kita, bagaimana kita mengatasi konflik antar anggota keluarga, bagaimana kita mensyukuri keberadaan keluarga kita dan bagaimana kita belajar menghargai antar anggota keluarga.

Jadi, bersyukurlah dengan keluarga mu sekarang, karena keluarga yang kita lihat sepertinya bahagia pasti sudah melalui banyak perjalanan dan sudah melalui berbagai macam proses hingga akhirnya mereka bisa menjadi keluar yang baik dan dapat diteladani.

Tapi, jika kamu sedang membaa blog ini kemudian mengatakan dalam hati, "tapi keluarga saya penuh konflik, saya membencinya". Maka, tenangkanlah dahulu dirimu, ingat kembali hal indah apa yang pernah kamu alami dalam keluargamu, hal bijak apa yang sudah diajarkan oleh keluargamu atau hal-hal baik apa yang sudah keluargamu ajarkan padamu, percayalah bahwa seburuk-buruknya keluarga mu, kamu pasti menemukan alasan kenapa kamu harus bersyukur dilahirkan di keluarga itu.
Mungkin bukan sekarang kamu menyadarinya, mungkin juga bukan besok, tapi pasti ada saat yang tepat.

Pesanku, cintailah keluarga mu!
Karena cinta dari keluarga adalah cinta yang murni dan sungguh-sungguh, bukan sebuah kepalsuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah CPNS 2018 (Part 2)

Mind Your Own Business

Nikah Muda. Yeay or Nay?