Adat, Lingkungan, Keyakinan
Ada yang bilang bahwa karakter seseorang akan selalu di pengaruhi oleh lingkungan dimana dia berada dan pada akhirnya membentuk sebuah keyakinan-keyakinan yang dia yakini dalam menjalani hidupnya.
Pernyataan itu mungkin benar, ya sepertinya benar dan saya meyakini hal terebut. Di blog kali ini saya bercerita mengenai pengalaman 3 hal ini yaitu adat, lingkungan dan keyakinan.
Saya berasal dari suku Batak, asli Batak karena Ayah saya marga Manurung dan Ibu saya boru Hutapea. Karena Batak menggunakan garis kuturan patrilineal maka saya menyandang boru Manurung di bagian belakang nama saya.
Saya seorang Batak yang di tinggal di sebuah kota kecil yaitu Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Daerah ini di dominasi oleh suku Bugis dan orang Batak tidak banyak namun juga tidak sedikit, tapi jangan membayangkan dapat membuat arisan marga karena setidaknya cuman 1 marga 1 keluarga, sehingga arisan yang dibuat adalah arisan keluarga Batak yang dipenuhi oleh berbagai macam marga.
Walaupun keluarga ku bergabung kedalam arisan Batak namun saya sesungguhnya gak tau tentang adat batak, saya hanya tahu bahwa saya batak dan menggunakan boru Manurung di belakang nama saya, sampai umur saya 22 tahun pun saya selalu menanyakan kepada mama saya harus memanggil apa ke seseorang apakah namboru, mamatua atau nantulang karena saya gak tau apa yang menjadi tolak ukur seseorang disebut namboru, mamatua atau nantulang, begitu juga dengan panggilan tulang, amangboru atau bapatua. Untuk hal memanggil saja saya tidak tahu apalagi hal-hal lain yang mungkin lebih susah.
Dan orang tua saya pun tidak pernah mengajarkan saya mengenai adat-adat Batak.
Keseharian saya pun lebih banyak di pengaruhi oleh suku Bugis dan pada akhirnya membentuk karakter saya seperti orang Bugis, sehingga saat berkuliah di Bandung dan menemukan teman-teman suku Batak ngomong saya suka ketakutan sendiri karena merasa seperti di marahi padahal dia merasa biasa-biasa saja. Banyak orang yang bilang, "jangan lebay lah, orang Bugis juga kan kasar-kasar". Well, disini saya mau tegaskan lagi ya orang Bugis gak kasar, serius, kalian hanya mendengar berita aja selama ini, belum mencoba berbaur, percayalah.
Contoh lainnya adalah orang Bugis memang memiliki gengsi yang cukup tinggi di dalam kehidupan keseharian, misalnya saat ada yang menikah, pasti para wanita akan menggunakan emas sebanyak mungkin atau yang akan menikahkan anak akan membuat pesta yang besar dan bagus, tapi adat menjelang pernikahan pun tidak ribet dan tidak banyak.
Sedangkan jika membandingkan dengan Batak agak beda, apalagi berbicara soal adat, adat Batak sangat banyak dan ribet.
Dan dari sini saya belajar tentang simple dan akhirnya tidak suka yang ribet-ribet. Sehingga sering kali bingung melihat pesta-pesta orang Batak yang bisa berhari-hari bahkan bangun jam 2 subuh untuk make up. Belum lagi kalau ada acara kematian atau acara adat lainnya, saya agak gimana gitu ngelihatnya, gak bisa saya ungkakan tapi begitulah. Pada akhirnya saya berpikir bahwa banyak hal yang jadi tidak masuk akal bagi ku. (ini opini saya loh ya, boleh setuju dan boleh enggak).
Hal lain yang cukup mempengaruhi saya adalah hal ke-Tuhan-an.
Sebagian kalian mungkin tahu kalau orang Batak bergereja di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), ini gereja adat Batak, tapi sayangnya saya tidak. Dari usia 5 tahun samapi 22 tahun saya tidak pernah bergereja di HKBP, ya karena di Parepare gak ada HKBP sih dan kalau mau ke HKBP harus ke Makassar dulu. Jadilah sejak kecil saya bergeraja di gereja non-HKBP.
Mungkin ada yang bertanya apa hubungannya, tapi bagi saya ada hubungan sih.
Hal-hal diatas pada akhirnya membuat saya tidak begitu mengenal Batak dan lebih suka mengatakan bahwa saya adalah orang Bugis, walaupun saya juga bangga menyandang boru Batak.
Keseharian itulah yang pada akhirnya membuat saya memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang beberapa hal, salah satunya tentang 'Batak'.
Ada yang bilang saya sombong, ada yang bilang saya gak menghargai adat, ada yang bilang saya gak jelas, ya tapi saya mau gimana dong? Keyakinan (prinsi) saya sudah terbentuk sejak lama dan perspektif itulah yang terus menggaung di dalam hati saya.
Ada yang sama dengan saya? 😊
Pernyataan itu mungkin benar, ya sepertinya benar dan saya meyakini hal terebut. Di blog kali ini saya bercerita mengenai pengalaman 3 hal ini yaitu adat, lingkungan dan keyakinan.
Saya berasal dari suku Batak, asli Batak karena Ayah saya marga Manurung dan Ibu saya boru Hutapea. Karena Batak menggunakan garis kuturan patrilineal maka saya menyandang boru Manurung di bagian belakang nama saya.
Saya seorang Batak yang di tinggal di sebuah kota kecil yaitu Kota Parepare, Sulawesi Selatan. Daerah ini di dominasi oleh suku Bugis dan orang Batak tidak banyak namun juga tidak sedikit, tapi jangan membayangkan dapat membuat arisan marga karena setidaknya cuman 1 marga 1 keluarga, sehingga arisan yang dibuat adalah arisan keluarga Batak yang dipenuhi oleh berbagai macam marga.
Walaupun keluarga ku bergabung kedalam arisan Batak namun saya sesungguhnya gak tau tentang adat batak, saya hanya tahu bahwa saya batak dan menggunakan boru Manurung di belakang nama saya, sampai umur saya 22 tahun pun saya selalu menanyakan kepada mama saya harus memanggil apa ke seseorang apakah namboru, mamatua atau nantulang karena saya gak tau apa yang menjadi tolak ukur seseorang disebut namboru, mamatua atau nantulang, begitu juga dengan panggilan tulang, amangboru atau bapatua. Untuk hal memanggil saja saya tidak tahu apalagi hal-hal lain yang mungkin lebih susah.
Dan orang tua saya pun tidak pernah mengajarkan saya mengenai adat-adat Batak.
Keseharian saya pun lebih banyak di pengaruhi oleh suku Bugis dan pada akhirnya membentuk karakter saya seperti orang Bugis, sehingga saat berkuliah di Bandung dan menemukan teman-teman suku Batak ngomong saya suka ketakutan sendiri karena merasa seperti di marahi padahal dia merasa biasa-biasa saja. Banyak orang yang bilang, "jangan lebay lah, orang Bugis juga kan kasar-kasar". Well, disini saya mau tegaskan lagi ya orang Bugis gak kasar, serius, kalian hanya mendengar berita aja selama ini, belum mencoba berbaur, percayalah.
Contoh lainnya adalah orang Bugis memang memiliki gengsi yang cukup tinggi di dalam kehidupan keseharian, misalnya saat ada yang menikah, pasti para wanita akan menggunakan emas sebanyak mungkin atau yang akan menikahkan anak akan membuat pesta yang besar dan bagus, tapi adat menjelang pernikahan pun tidak ribet dan tidak banyak.
Sedangkan jika membandingkan dengan Batak agak beda, apalagi berbicara soal adat, adat Batak sangat banyak dan ribet.
Dan dari sini saya belajar tentang simple dan akhirnya tidak suka yang ribet-ribet. Sehingga sering kali bingung melihat pesta-pesta orang Batak yang bisa berhari-hari bahkan bangun jam 2 subuh untuk make up. Belum lagi kalau ada acara kematian atau acara adat lainnya, saya agak gimana gitu ngelihatnya, gak bisa saya ungkakan tapi begitulah. Pada akhirnya saya berpikir bahwa banyak hal yang jadi tidak masuk akal bagi ku. (ini opini saya loh ya, boleh setuju dan boleh enggak).
Hal lain yang cukup mempengaruhi saya adalah hal ke-Tuhan-an.
Sebagian kalian mungkin tahu kalau orang Batak bergereja di HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), ini gereja adat Batak, tapi sayangnya saya tidak. Dari usia 5 tahun samapi 22 tahun saya tidak pernah bergereja di HKBP, ya karena di Parepare gak ada HKBP sih dan kalau mau ke HKBP harus ke Makassar dulu. Jadilah sejak kecil saya bergeraja di gereja non-HKBP.
Mungkin ada yang bertanya apa hubungannya, tapi bagi saya ada hubungan sih.
Hal-hal diatas pada akhirnya membuat saya tidak begitu mengenal Batak dan lebih suka mengatakan bahwa saya adalah orang Bugis, walaupun saya juga bangga menyandang boru Batak.
Keseharian itulah yang pada akhirnya membuat saya memiliki perspektif yang berbeda dalam memandang beberapa hal, salah satunya tentang 'Batak'.
Ada yang bilang saya sombong, ada yang bilang saya gak menghargai adat, ada yang bilang saya gak jelas, ya tapi saya mau gimana dong? Keyakinan (prinsi) saya sudah terbentuk sejak lama dan perspektif itulah yang terus menggaung di dalam hati saya.
Ada yang sama dengan saya? 😊
Komentar
Posting Komentar