Mau Dibawa Kemana?


(source : google)

Kalau ditanya apa tujuan hidupmu, kira-kira kamu akan jawab apa?
Kalau ditanya apakah hidupmu sudah berarti, kira-kira kamu akan jawab apa?

Dua pertanyaan itu tampaknya memang sangat sulit untuk dijawab, butuh kesadaran dari dalam diri dan perenungan malam yang panjang untuk bisa menjawabnya. Aku rasa gak semua orang bisa menjawab pertanyaan itu, mungkin karena belum pernah memikirkannya atau karena baginya hidup cukup tentang makan dan minum. Pada akhirnya nilai-nilai apa yang dianut oleh seseorang yang akan menjawab 2 pertanyaan tadi.

Setiap orang pasti memiliki nilai-nilai yang dianut dalam menjalani hidup ini. Nilai-nilai ini biasanya ada 2 bentuk, yang sudah terbentuk sejak kecil seperti tidak mudah mempercayai orang lain karena sudah ditanamkan oleh orang tua sejak dini ataupun yang baru didapatkan ketika dewasa saat sudah mengalami berbagai proses kehidupan seperti penerimaan diri (mencintai diri sendiri).  Nilai-nilai ini pada akhirnya mempengaruhi setiap aspek kehidupan khususnya dalam pengambilan keputusan, terlebih untuk keputusan-keputusan yang penting seperti memilih pekerjaan, memilih pasangan hidup, memilih gaya hidup, memilih lingkungan pertemanan, dsb. Tidak jarang, akhirnya memunculkan standar yang notabene dibuat oleh diri sendiri dan selalu menjadi acuan. 

Berbicara tentang nilai, setiap orang tentu memiliki nilai-nilai yang berbeda, namun ada yang menjadi kebenaran publik yang seolah-olah ketika kita memilih seperti itu maka pilihan kita adalah baik dan benar dan jika tidak maka kita ada pada pilihan yang salah. Pernah dengar kalimat "wanita yang cantik adalah wanita yang memiliki rambut hitam dan lurus, badan yang langsing dan tinggi" atau kalimat "dia saja bisa, masa kamu tidak bisa?" atau "kalau kamu punya uang yang banyak pasti hidupmu lebih enak dan lebih mudah". Kalimat-kalimat tadi pasti seringkali kita dengar dan masih banyak kalimat-kalimat lainnya yang serupa, seolah-olah mengajak kita untuk ikut arus sama seperti apa yang dianggap oleh publik (masyarakat) baik dan benar. Pada akhirnya beberapa orang atau bahkan kebanyakan orang tidak memahami dirinya sendiri dan berusaha untuk menjadi apa yang dianggap baik dan benar oleh kebanyakan orang.

Mari kita sedikit bercerita. Ini kisah tentang aku, cukup sederhana tapi sebuah cerita tentang penerimaan diri yang akhirnya jadi mencintai diri sendiri. Terlahir dengan rambut ikal yang pirang, saat aku masih kecil aku menggemaskan sekali, sampai akhirnya orang-orang disekitar ku merasa aku aneh dengan rambut ikal pirang itu karena aku berada diantara orang-orang dengan rambut lurus dan hitam. Pada akhirnya aku memutuskan untuk mewarnai dan me-smhooting rambut ku supaya dianggap sama. Tapi semenjak dewasa, saat pengalaman dan lingkungan ku lebih luas maka aku lebih bisa memahami diriku dan menerimanya apa adanya karena inilah aku dan butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa sampai pada titik ini. 

Cerita lainnya tentang seorang teman yang memiliki bakat seni yang tinggi. Dia pandai sekali memainkan berbagai macam alat musik bahkan suaranya juga merdu, 'ntah darimana bakatnya itu, tapi sayang dalam hal matematika dan kimia dia gak jago bahkan agak kurang dan memutuskan mengambil ilmu sosial sewaktu SMA dan ingin masuk sekolah seni saat lulus SMA. Dia terlihat jago dan keren diantara teman-teman bandnya dan diantara orang-orang yang menontonnya saat sedang manggung, tapi sayang cemooh seringkali didapati karena dia cukup lambat memahami matematika dan kimia Tapi bagi ku ini gak salah, gak semua orang harus jago matematika pun kimia seperti kebanyakan orang, kita gak harus selalu jago dalam berbagai hal dan sama seperti orang lain karena kita istimewa dengan bakat kita sendiri.

Itu cerita-cerita masa lalu yang sering kali dialami oleh Anak Baru Gede alias ABG. Setelah sedikit dewasa secara umur, btw sebentar lagi aku 25 tahun loh (huft, belum siap), ada hal-hal lain yang menjadi nilai hidup kebanyakan orang dewasa.

Berapa banyak orang dewasa yang tidak memiliki tabungan padahal sudah kerja selama 2-3 tahun hanya karena lebih memilih membeli barang-barang dengan high end brand dan ngopi cantik di kafe mahal sekelas starbucks ataupun sejiwa, dsb karena meyakini bahwa mereka sudah bekerja keras dan butuh apreasiasi terhadap diri sendiri dan agar diterima dilingkungan pertemanannya. Pertanyaannya kemudian, lalu bagaimana melanjutkan hidup kedepannya jika tabungan pun tak punya. Lalu, apakah dirimu serendah itu hanya dihargai oleh orang lain saat mengikuti gaya hidup mereka. 

Berapa banyak orang dewasa yang memilih bekerja keras hingga kantor menjadi rumah kedua dan kerja adalah saparuh jiwanya, akhirnya bisa mendapatkan uang yang banyak dan bisa investasi kemana-mana. Namun pertanyaannya kemudian, apa gunanya uang banyak saat teman dan pasanganpun tak ada? Jika ada, apakah mereka merasakan kehadiran kita atau hanya merasakan uang kita? Jadi mana yang lebih penting, kita atau uang kita?

Berapa banyak orang dewasa yang salah memilih pasangan hanya karena melihat paras cantik/ganteng seseorang atau hanya melihat almamaternya atau hal=hal lainnya dan berakhir dengan tangisan? Karena bukankah seharusnya memilih pasangan berdasarkan karakter dan kesatuan visi-misi sehingga kedepannya memiliki tujuan yang mulia sebagai pasangan, karena paras, kaya raya, dsb tidaklah menjadi jaminan.

Berapa banya orang dewasa yang menganggap orang lain adalah lawan karena lebih sukses, lebih kaya, lebih pintar dan berbagai kelebihan lainnya hingga berusaha agar dirinya sama dengan orang lain, bahkan yang paling buruk berbuat apa saja agar hasratnya tercapai dan yang lebih buruk lagi saat mereka sudah sirik dan berbuat jahat. Lalu, mana harga dirimu? Berbuat rendah hanya untuk sama dengan orang lain,? Memalukan!

Banyak hal yang dilalui dan membentuk kita hari ini, pada akhirnya lingkungan yang mempengaruhi cara pandang kita dan nilai-nilai yang kita anut. Kita yang memutuskan kita mau seperti apa.

Akhirnya, pertanyaan berikutnya adalah mau dibawa kemana? 

Selamat merenungkan! :) 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah CPNS 2018 (Part 2)

Mind Your Own Business

Nikah Muda. Yeay or Nay?