Untittled

Akhir-akhir ini saya sedang malas menggunakan media sosial terutama facebook dan twitter yang menjadi tempat membicarakan tentang politik di negara ini, saya berharap instagram tidak akan terkena virus yang buruk ini. Lebih baik melihat orang-orang pamer di instagram daripada melihat pertikaian bodoh yang terjadi di facebook dan twitter.

Kita dapat melihat di media sosial bukan hanya masyarakat biasa yang tidak bersekolah (maaf) tapi juga para elit-elit yang katanya lulusan luar negeri ataupun memiliki gelar akademis sampai S3 bahkan mungkin memiliki gelar profesor sekalipun seakan tidak dapat memilah lagi apa yang harus di tulis ataupun di ungkapkan di media sosial, padahal kita berharap bahwa mereka yang katanya orang berpendidikan harus lebih bijak dan menjadi penengah diantara kisruh yang terjadi, tapi mereka memilih untuk membakar amarah orang-orang awam yang kurang paham mengenai situasi yang terjadi dan membuat situasi semakin tidak kondusif. Tampaknya gelar akademis tidak lagi menjadi tolak ukur yang tepat untuk menilai kebijaksanaan seseorang.

Tidak ada yang salah ketika kita mendukung seseorang, tidak ada yang salah kalau kita memiliki pendapat atau pilihan yang berbeda dengan orang lain, bayangkan saja kalau semuanya menginginkan hal yang sama, lalu apa yang terjadi? Tentu akan terjadi ketidakseimbangan.  Bayangkan saja jika seorang pemuda bernama A mencintai pemudi bernama Y, jika pemuda B, C, D dan E dan pemuda lainnya menyukai Y, lalu bagaimana dengan wanita lainnya? Mungkinkah Y mencintai semua pemuda? Tentu tidak. Ini hanya sebuah ilustrasi sederhana, kalau ada yang bilang ini tidak bisa di samakan, cobalah pikirkan kembali.
Perbedaan seharusnya menjadi pemersatu bukan pemecah, karena dengan adanya perbedaan tercipta sebuah keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup.

Namun yang terjadi di Indonesia saat ini adalah perang media sosial yang semakin kencang, orang saling memaki dan merasa paling benar, yang berbeda dengan mereka adalah orang yang bodoh atau pihak yang salah dan harus dihilangkan dari muka bumi ini. Hei sadar hei! Apa yang menjadi tolak ukur bahwa kalian benar dan yang lain salah? Hal-hal seperti inilah yang seringkali membuat tidak habis pikir, ada kesalahan berpikir tampaknya dan emosi yang terlalu berlebih yang membuat seseorang pada akhirnya berbuat sesuatu diluar logika manusia. Ingatlah, bahwa segala sesuatu yang berlebihan tidak pernah baik, segala sesuatu harus sesuai dengan porsinya. 

Contoh nyata yang baru saja terjadi adalah kasus pengeboman 3 gereja di Surabaya, ada beberapa orang yang dengan terang-terangan menulis di media sosial mereka bahwa bom yang terjadi itu adalah pengalihan isu yang sengaja dilakukan agar isu ganti presiden 2019 dilupakan sejenak dan bla bla bla (saya bahkan tidak sanggup melanjutkan karena merasa sangat miris). Ayolah kawan, bagaimana mungkin banyak nyawa yang dikorbankan hanya untuk pengalihan isu? Apakah Anda sedang bercanda? Hanya orang bodoh dan tidak punya nurani yang dapat melakukan hal-hal seperti itu! 
Bagaimana mungkin dengan gampangnya mereka berkata seperti itu? Apa yang ada dipikiran mereka? Inilah yang terjadi jika kebencian merasuk terlalu dalam namun tidak diimbangi dengan logika berpikir yang baik dan pemahaman spiritual yang baik.

Saya seringkali miris melihat orang-orang yang dengan mudah menjudge sesuatu namun sebenarnya tidak paham tentang apa yang sedang mereka permasalahkan.

Contoh lain adalah orang-orang yang berkata dollar tembus Rp. 14.000, pengangguran banyak, tarif listrik naik, utang negara banyak, bla bla bla. Namun dia sendiri tidak begitu paham dengan setiap kebijakan yang dibuat, mereka tidak paham apa yang menjadi landasan setiap kebijakan, bagaimana teori-teori dapat menyelesaikan setiap permasalahan. Tidak, mereka tidak paham, mereka hanya punya kemampuan mencibir daripada menganalisis.

Sepertinya lelah sekali melihat kejadian seperti ini yang seringkali terjadi di media sosial, perang media sosial terus berlanjut ntah sampai kapan. Apakah tidak ada keinginan untuk menyudahinya? Atau setidaknya meminimalisir ha-hal seperti ini.

Namun memang tidak bisa dipungkiri, perkembangan media sosial yang semakin besar membuat kebencian lebih mudah disebarkan dan mereka yang menerima semuanya secara mentah-mentah tentu akan memiliki pemahaman yang salah dan pada akhirnya menyebarkan kebencian juga hingga roda kebencian akan terus berputar dan pada akhrinya semakin membesar tanpa disadari dan hal mungkin ini yang menjadi bahagia bagi orang-orang di luar sana yang memiliki agenda tertentu. miris sekali memang.

Maka dari itu, saya mengajak teman-teman untuk lebih mawas diri dan lebih mem-filter bahan bacaan, media yang di dengar dan di tonton, jangan segala sesuatu ditelan mentah-mentah karena seyogiya nya setiap kita di beri akal budi oleh Tuhan YME untuk membedakan sesuatu yang baik dan benar, ingat, segala sesuatu yang berlebihan tidak ada yang baik, seperti fanatik berlebihan, merasa diri paling benar secara berlebihan, dll.

Mari ciptakan situasi dan kondisi yang lebih positif dengan membaca lebih banyak, berdiskusi lebih banyak, mengamati lebih banyak. Mari kerjakan hal-hal positif.

Salam damai!














Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah CPNS 2018 (Part 2)

Mind Your Own Business

Nikah Muda. Yeay or Nay?