Aku, Kamu, dan Toleransi

(source : google)
Sejak usia 5 tahun orangtua saya memutuskan untuk pindah ke sebuah kompleks di daerah Lumpue, Parepare, Sulawesi Selatan. Jarak kompleks saya dengan pusat Kota Parepare sekitar 5 km atau mungkin 6 km. Sebelumnya kami tinggal di pusat kota, tetapi karena pasca gempa tahun 1999 orangtua saya memutuskan untuk membeli rumah yang agak sedikit ke pinggir.

Kompleks saya bukanlah kompleks yang majemuk, mayoritas penduduk disana kaum muslim dan berasal dari suku bugis.
Dan saya adalah seorang Kristiani bersuku Batak. Dan keluarga ku adalah satu-satunya yang paling berbeda di lingkungan hidup kami.

Selama tinggal di kompleks itu, banyak sekali kenangan indah bersama para tetangga.
Saya masih memiliki memori indah itu, memori saat pertama kali bertemu dengan tetangga yang juga seumuran dengan saya, bagaimana perkenalan pertama kami, bagaimana sikap malu-malu kami saat pertama kali bertemu, dan lain sebagainya.
Pada masa itu, perbedaan bukan menjadi penghalang. Perbedaan bukan menjadi jurang pemisah. Perbedaan tidak membuat kami bertengkar bahkan bermusuh.

Di dekat kompleks tempat saya tinggal, ada sebuah masjid kecil yang menjadi tempat bagi tetangga-tetangga saya untuk melalukan ritual sembahyang seperti yang diajarkan oleh agamanya.
Saya masih mengingat kejadian masa kecil, saya sering sekali mengunjungi masjid itu bersama dengan teman-teman saya untuk bermain, dengan riang kami bermain bersama di pekarangan masjid. Selama bermain, saya tidak pernah mendapat teguran ataupun dimarahi oleh seseorang karena saya 'yang berbeda' bermain di masjid, dan dengan senang setiap hari kami bermain di masjid.

Bukan hanya itu, disaat lebaran pun, orangtua saya dan saya mengunjungi rumah tetangga satu persatu sambil mengucapkan selamat hari raya idul fitri sekaligus ajang silahturahmi dan saling meningkatkan rasa persaudaraan.
Saat natal pun, keluarga saya akan melakukan open house dan para tetangga akan datang ke rumah saya dan mengucapkan selamat hari raya natal (terlepas mereka boleh mengatakannya atau tidak) dan bersantap siang di rumah saya, teman-teman kantor Ayah saya yang Islam juga datang dan bercengkrama serta berbagi sukacita bersama di hari itu. Teman-teman sekolah saya yang beragama Islam pun akan datang bersilahturahmi.
Hari keagamaan itu menjadi hari dimana kami bersilahturahmi satu sama lain tanpa memandang hina perbedaan yang ada diantara kami.

Saya telah hidup selama 21 tahun di Indonesia dan selama 21 tahun itu juga saya hidup dan bersosialisasi di kalangan umat Islam. 
Saya tahu bagaimana ajaran Islam, saya tahu ajaran Islam penuh kasih dan tidak mengajarkan kekerasan dan juga kebencian, Islam mengajarkan hal-hal yang baik bagi pengikutnya. Saya dapat berkata seperti ini karena saya bergaul erat dengan mereka di dalam kehidupan keseharian saya sejak kecil hingga saat ini.

Sehingga jika beberapa waktu belakangan ini Saya melihat ada orang ataupun golongan tertentu yang membawa kekerasan dan kebencian dan mengatasnamakan Islam, saya merasa mereka bukanlah Islam, karena Saya merasa mereka bukanlah sosok yang merepresentasikan umat Islam yang sesungguhnya. Mereka mungkin hanya orang-orang yang dihasut untuk memecah belah dengan mengatasnamakan agama Islam. 
Alih-alih datang sebagai pembela agama yang baik, mereka malah merusak citra Islam. Kalaupun ada yang membela mereka, Saya pun tidak paham apa dasar yang tepat untuk membela mereka.

Ah, tapi sudahlah. Itu urusan mereka.
Yang terpenting, saling menghargai lah terhadap perbedaan yang ada. 
Kau tidak akan pernah tahu yang namanya toleransi jika kau hanya hidup dengan dunia mu sendiri. Maka dari itu keluarlah, bertemanlah dengan siapa saja-apapun agama, suku, maupun ras nya, belajarlah dari banyak hal. Karena hanya mereka yang merasakan indahnya perbedaan yang memahami bagaimana cara bertoleransi terhadap perbedaan.

Selamat malam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sepenggal Kisah CPNS 2018 (Part 2)

Mind Your Own Business

Nikah Muda. Yeay or Nay?